Jakarta (today.co.id)- Sekolah Alam Indonesia kembali menunjukkan kiprahnya di luar kegiatan belajar-mengajar di kelas. Sebuah buku baru berjudul Character Building (Membangun Karakter Menjadi Pemimpin), karya Yudha Kurniawan, S.P. dan Ir. Tri Puji Hendarsih, diterbitkan dan dipasarkan dengan harga 3.5 Dirham atau Rp 150.000.
Buku ini berisikan aktivitas bermakna yang dimulai pada masa perkembangan, di mana anak-anak mulai belajar tentang aturan. Pembentukan kebiasaan terhadap aturan yang ada tergantung pada pengulangan dari rutinitas penerapan aturan dan konsistensi penerapan aturan tersebut. Sehingga ketika kebiasaan itu terbentuk, anak lebih mengenal dirinya sesuai dengan kebiasaan yang dimilikinya.Perkembangan nilai karakter dan perilaku seseorang bergerak dari tahapan awal mengetahui nilai karakter (TAHU). Kemudian mengenali nilai karakter sesuai dengan contoh yang diberikan dalam keseharian baik oleh pembimbingnya di sekolah atau orang tua dan orang terdekatnya di rumah (KENAL). Lalu menjadi pembiasan dan terus mendapatkan apresiasi dari orang sekelilingnya sampai menjadi kebiasaan (BIASA). Kebiasaan terus menjadi nilai karakter yang dilakukan secara otomatis (MELEKAT) hingga mendarah daging. Baca entri selengkapnya »

Perkembangan musik anak-anak tak lepas dari amatan pengamat musik Indonesia, Denny Sakrie, 47 tahun. Dia membantah bahwa musik anak-anak telah menghilang dari dunia permusikan Indonesia. “Cuma orang tidak mengekspos,” ujarnya saat berbincang-bincang dengan Tempo di sebuah kedai kopi di Plasa Senayan, Jakarta, Kamis lalu.

Banyak pihak merasa lagu-lagu anak sudah lama menghilang. Anda merasakan hal serupa?

Kalau orang bilang musik anak-anak enggak ada, salah itu. Musik anak sekarang ada, meski tak banyak. Contohnya (Denny mengeluarkan compact disc album lagu berjudul Just SingSekolah Alam Indonesia di Ciganjur bikin album, judulnya Berjuta Bintang di Langit Sekolah Kita. Itu guru-gurunya yang bikin lagu terus ngajak orang tua murid, salah satunya Fadly, vokalis grup musik Padi, untuk bikin album lagu anak-anak. Pada 19 Juni lalu, mereka bikin konser di Taman Ismail Marzuki, tapi enggak ada yang tahu. Berarti ini media ikut membantu menghapus lagu anak-anak. Dan kalau kita lihat, odong-odong (becak bermusik untuk anak-anak) di kompleks kan masih memakai lagu anak-anak. karya Patricia Limawal). Cuma orang enggak ekspos. Kemarin juga

Baca entri selengkapnya »

Gambar proyek

Pada Sabtu, 21 Agustus 2010, komunitas Sekolah Alam Indonesia (SAI) meluncurkan proyek Menjemput Sekolah Impian di kampus Ciganjur, Jakarta Selatan.

Proyek ini adalah impian besar komunitas SAI. Lebih dari itu, proyek ini juga menggambarkan impian bangsa Indonesia terhadap sebuah sistem pendidikan yang membebaskan anak untuk berkreasi, memahami dan mencintai alam, serta menjadikan orang tua murid sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan anak mereka.

Tujuan sistem pendidikan yang dijalankan SAI adalah melahirkan generasi berakhlakul karimah, memiliki kemampuan logika-ilmu pengetahuan, dan berjiwa pemimpin. Tujuan itu telah konsisten dijalankan oleh SAI sejak berdiri tahun 1998 (dengan nama Sekolah Alam) hingga sekarang ini. Berjubelnya para orang tua untuk antri mendaftarkan anak mereka bersekolah di SAI membuktikan bahwa sistem pendidikan dan tujuan dari pendidikan SAI telah disambut dengan baik oleh masyarakat Indonesia.

Menyadari hal tersebut dan mengingat kebutuhan untuk mengembangkan kampus pendidikan terpadu, komunitas SAI mencanangkan proyek ini yang dirancang untuk semakin menguatkan SAI sebagai sekolah berbasis alam dan komunitas.

Anda yang ingin mendukung atau ingin mengetahui lebih jauh mengenai proyek ini dapat menghubungi:

Ketua Tim Proyek: Eriko Arsito (HP. 0818 737 456)
Sekretaris/Bendahara Tim Proyek: Mohammad Agung (0811 917 608).

Sekretariat Tim Proyek
Kantor Yayasan Alamku (Sekolah Alam Indonesia)
Jl. Anda 7X Ciganjur, Jakarta Selatan
E-mail: sai.sekolahimpian@yahoo.com

Dapat juga mengunjungi blog yang dikelola oleh Tim Proyek Menjemput Sekolah Impian di www.saimenjemputimpian.wordpress.com.

(Written by bullseye on June 26, 2010 – 4:36 am )

Pada tanggal 22 Juni 2010 lalu, Parkour Jakarta menerima undangan dari pihak Sekolah Alam Indonesia Ciganjur untuk memberikan bimbingan khusus mengenai parkour kepada siswa-siswa kecil di sekolah tersebut.

Quadrupedal MBasic Roll

Berawal dari laporan seorang guru yang khawatir akan cedera yang dialami oleh beberapa siswa setelah menonton Yamakasi dan sebuah iklan yang mereka bilang mirip Yamakasi, maka pihak sekolah memutuskan untuk membimbing para siswa mereka dengan pengetahuan parkour yang sebenarnya. Hal itulah yang membuat Parkour Jakarta bersedia untuk menyempatkan waktu ke sekolah tersebut dan membantu para guru untuk mengenalkan parkour kepada mereka.

Precision JumpBasic LandingFlow FUn

Bimbingan parkour tersebut ditujukan untuk memberikan program latihan yang benar kepada siswa-siswa supaya lebih berhati-hati terhadap parkour dan berlatih dengan benar namun dengan gaya yang lebih riang dan menyenangkan. Dimulai dengan memperkenalkan apa itu parkour kepada para siswa, pemanasan, quadrupedal movement, basic jump, basic landing, precision jump, basic rolling, mini vault, sampai flow session. Semuanya diterapkan secara fun. Berkat kesuksesan materi bimbingan parkour tersebut, rencananya kegiatan ini akan dibuat secara rutin oleh kepala sekolahnya supaya murid-murid mereka bisa belajar disiplin dengan cara yang menyenangkan dan mampu mengembangkan kreatifitas mereka. Sekaligus juga membuktikan kepada masyarakat awam bahwa parkour itu bisa dilakukan oleh semua umur.

Sumber: http://www.parkourindonesia.web.id/berita/mini-parkour-di-sekolah-alam-indonesia.html

http://www.okezone.com - Ratusan anak dari Sekolah Alam Indonesia memperlihatkan kegiatan mereka sebagai anak-anak dalam konser bertajuk Berjuta Bintang di Langit Sekolah Kita.

(Kamis, 24 Juni 2010, Durasi: 02:42 )

Untuk melihat tayangannya, “klik” gambar di atas atau tautan di bawah ini:

http://video.okezone.com/play/2010/06/24/235/20510/konser-akbar-siswa-sekolah-alam-indonesia

JAKARTA (Bisnis.com): Sekolah Alam Indonesia (SAI) yang pertama di Indonesia, akan mengadakan konser musikal dengan tema Berjuta Bintang di Langit Sekolah Kita untuk mengisi kekosongan lagu anak-anak saat ini, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, besok, 19 Juni, pk 15:30-18:00.

”Syair dalam lagu-lagu tersebut merupakan pengalaman batin para guru ketika mereka mendedikasikan dirinya di lingkungan SAI Ciganjur,” kata Ko-produser album yang juga Ketua Panitia Konser Veranita, kepada Bisnis.com, tadi sore.Dia mencontohkan lagu berjudul Samudra. Embrio lagu tersebut, katanya, dimulai ketika beberapa siswa kesulitan menghafal nama-nama samudera di dunia. Kemudian Novi Hardian, seorang guru yang sudah cukup lama berada di lingkungan SAI mencoba merangkai nama-nama samudra itu dalam nada-nada yang riang. Setelah lagu itu diperkenalkan kepada anak didiknya, maka mereka pun dengan muda menghafal nama-nama samudra.

Kisah serupa pun mengiringi sejarah terciptanya lagu-lagu Jiwa Pemberani, Berjuta Bintang, Senandung Cinta, Nyanyian Malam, Uang, Days of The Week, dan Always Together.

“Kehadiran album Berjuta Bintang di Langit Sekolahku ini merupakan sebuah kumpulan lagu anak edukatif karya guru-guru Sekolah Alam Indonesia,” katanya.

Pihaknya mengharapkan kehadiran album tersebut bisa mengembalikan dunia anak-anak serta memperkaya khasanah musik anak di Indonesia.

Konser yang berlangsung selama 2,5 jam itu didukung oleh musisi-musisi ternama seperti Fadly & Rindra PADI, Bintang Indrianto, Hendri Lamiri, Ronny Waluya, Netta KD, Afwan dan Novi IZIS, dinyanyikan oleh  grup vokal yang terdiri dari siswa-siswi SAI dari berbagai tingkat.

Munculnya ide untuk meluncurkan album tersebut, kata Veranita, karena beberapa tahun belakangan ini terdapat kekosongan lagu-lagu  anak-anak. Untuk mengisi kekosangan lagu-lagu anak-anak, maka pihaknya meluncurkan album yang telah dipersiapkan sejak 6 bulan yang lalu itu. (ln) Oleh: Reni Efita Hendry

Sumber:  http://www.bisnis.com / Jumat, 18/06/2010

(Wakalanusantara.com) – Komunitas Sekolah Alam Indonesia, Rawakopi, kembali melakukan sebuah terobosan. Di sana kini ada Wakala Dinar Dirham.

Wakala HijauSecara akademik, sejak awal dikonseptualisasikan, sampai penerapannya hari ini, Sekolah Alam Indonesia (SAI), telah mengambil jalan pendidikan yang sangat unik. Belajar di Alam, dan berbasikan pada komunitas, begitulah antara lain, pendekatan yang diambil para penggagasnya. Anak-anak peserta didik “dibebaskan berekspresi, berekspresi tanpa dibatasi sekat-sekat dinding dan berbagai aturan yang mengekang rasa ingin tahu mereka”.

Karena itu, Sekolah Alam Indonesia membuat sistem ranking tidak menjadi salah satu tolak ukur prestasi siswa. Namun sekolah akan memicu semua siswanya untuk mengembangkan bakat. Paradigma “multi intelejenis” menjadi dasar pengembangan kurikulum di SAI.

Secara fisik anak-anak didik di Sekolah Alam Indonesia tidak dikungkung dalam kelas-kelas tertutup. Mereka belajar dalam saung-saung, yang dibangun di lahan seluas 7.200 meter, yang sangat asri. Model SAI, tak heran, kini ditiru di banyak tempat di seluruh Indonesia.

Salah satu hal yang hampir tidak pernah diajarkan di sekolah lain, misalnya, adalah konsep alat tukar suka rela. Meski bukan sebagai pelajaran pokok, kepada Anak-anak Sekolah Alam Indonesia, diperkenalkan dengan matang uang emas (Dinar) dan perak (Dirham). Mata uang berbasis komoditi ini adalah ekspresi mendasar dari kebebasan manusia, kebebasan memilih alat tukar. Sejak dini, anak-anak ini tidak cuma dikenalkan dengan sistem keuangan yang berlaku saat ini, yakni uang kertas dengan perbankannya, yang tak lain adalah sistem riba, tetapi juga alat tukar sukarela tersebut.

Dan inilah terobosan terbaru komunitas SAI: kini ada sebuah wakala Dinar Dirham di sana, dengan nama Wakala Hijau. Sebuah nama yang sederhana tetapi sangat bermakna. Ibu Veranita Dwiputri, seorang penggerak SAI sejak awal berdirinya dulu, dan Bpk Ananto Pratikno, Direktur Eksekutif SAI saat ini, adalah dua motor penggerak Wakala Hijau.

“Dengan adanya Wakala di lingkungan Sekolah Alam, kami perlahan-lahan akan memperluas pengamalannya. Pertama-tama koin Dinar dan Dirham akan diterima sebagai alat pembayaran di kantin sekolah,” ujar Bu Veranita tentang rencana ke depan. “Sesudah terbiasa kami akan terapkan Dinar dan Dirham sebagai alat pembayaran biaya sekolah, dan honorarium guru-guru,” tambah Pak Ananto.

Dalam waktu dekat, kemeriahan Sekolah Alam Indonesia juga akan bertambah, karena Wakala Hijau, SAI, dan JAWARA Dinar, akan menyelenggarakan Festival Hari Pasaran (FHP), di lingkungan kampus SAI, di Ciganjur. Seperti biasanya, FHP kali ini pun, akan disertai dengan pembagian zakat dalam Dirham bagi kaum dhuafa di sekitar SAI.

Sumber: http://wakalanusantara.com/detilurl/Ada.Wakala..di.Sekolah.Alam.Indonesia/348

KabariNews.com - Melihat suasana sekolah yang ada saat ini memang terkadang membuat para murid cepat jenuh dan bosan untuk berlama-lama berada di lingkungan sekolah.

Di Jakarta terdapat sekolah yang menyajikan suasana yang berbeda dengan yang lainnya, hal ini dimaksudkan untuk menarik minat orang tua murid dan untuk merangsang daya pikir anak agar dapat dengan mudah menerima pelajaran.

Sekolah Alam di daerah Jagakarsa Jakarta Selatan memberikan suasana sekolah yang berbeda dengan sekolah lain pada umumnya, lingkungan sekolah yang asri, nyaman, teduh dan lebih menyatu dengan alam sekitarnya dapat membuat para murid dan orang tua betah dan kerasan berlama-lama, serta membuat murid mudah menerima materi pelajaran yang diberikan.(arip) Klik disini untuk lihat videonya

Sumber: KabariNews.com / 06/30/2008 – 8:50 a.m. GMT

Oleh Teguh Iman Perdana

Jika  Anda merindukan dengan lagu bernuansa anak-anak dengan aura rasa yang ‘lengkap’, simaklah album “Berjuta Bintang Di Langit Sekolahku” yang diluncurkan oleh Komunitas  Sekolah Alam Indonesia ini.  Meski berbasis sekolah, maaf, kelas album ini jauh dari sekedar ‘fund-raising based’.

Kekuatan album ini memang muncul dari kesederhanaan, namun tetap dibalur dengan totalitas dan profesionalitas  sebuah karya musik.  Maka, sebagai konsekuensinya, mencuatlah karya-karya apik dalam 10 lagu di album ini. Ya, album yang seluruh lagunya adalah karya orisinil guru-guru Sekolah Alam Indonesia ini, menghadirkan sesuatu yang layak diapresiasi.

Maka, lebih dari sekedar untaian lagu, ada jiwa yang ikut mencuat dari deretan lagu yang dihadirkan. Maka, rasakanlah getaran yang menggelisahkan tentang makna sebuah kekayaan dari lagu “Uang”. Lagu ini terhitung unik dan dahsyat, dimana paduan harmonis intro ala grup legendaris “Yes” ditingkahi oleh rempak  marawisy  anak-anak SAI, menghasilkan musik pembuka yang sungguh kuat ‘membetot’ telinga. Sebuah kejutan kembali dihadirkan lewat hentakan bass Rindra “Padi” yang mencabik-cabik  garang di tengah lagu. Namun, ya salam… semua mengerucut begitu manis, saat suara anak-anak nan riang menyuarakan makna uang yang sejati dalam kehidupan!

Namun sebelumnya, silakan terhanyut dalam ketulusan sebuah pengabdian sepenuh cinta dari guru pada murid-muridnya pada “Berjuta Bintang di Langit Sekolahku”, yang memang menjadi andalan dari album ini. Dan dalam lagu “Senandung Cinta”, ungkapan cinta nan tulus dan indah pada anak-anak, kembali diulang, namun indahnya, tidak terjebak dalam epigon serupa dengan lagu “Berjuta Bintang”.

Jika kemudian muncul lagu-lagu yang sesungguhnya merupakan musikalitas materi pelajaran (“Samudra”, “Days of The Week”), tak lain karena anak-anak dan pendidikan keseharian di Sekolah Alam Indonesia adalah inspirasi terbesar para guru ketikas menciptakan lagu-lagu ini. Meski begitu, semua hadir dengan kualitas melodius yang patut diperhitungkan. Tidak mengherankan karena sejumlah tangan dingin terlibat dalam pembuatan album ini. Sebut saja nama Bintang Indrianto sebagai music arranger , Fadli “Padi”, Rindra “Padi” dan Hendri Lamiri.

Meski begitu, kaidah selera pasar (sebagai hukum wajib pabila kita tak ingin album ini hanya berjaya di ruang resensi kaset) agaknya tetap diperhatikan oleh komunitas ini. Maka album ini pun memberi ruang pada ekspresi pop  ala Westlife, seperti yang terdengar lewat tembang “Always Together”. Maafkan bila ada titik bening di ujung mata Anda, karena selain melodius, makna lagu ini pun menukik dalam, mengingatkan akan indah dan pentingnya kebersamaan merengkuh cita bersama.

Kekurangan mungkin agak terasa pada pengisi vokal yang tak sepenuhnya ‘studio sound’ itu. Namun ini memang konsekuensi dari sebuah keinginan kuat untuk menampilkan potensi komunitas Sekolah Alam Indonesia.: tetap apa adanya, sebening dunia anak itu sendiri. Maka tak perlu heran bila ada yang menyebut album ini seperti melahap gudeg Yogya: semakin hari, semakin nikmat rasanya. Ketercerahan akan kenikmatannya, memang datang seolah lambat, tapi justru karena itu, sanggup bertahan lama. (Teguh Iman Perdana adalah trainer, penulis dan anggota komunitas SAI)

blogSAI

Blog ini bukan resmi (official) dari Sekolah Alam Indonesia (SAI). Kunjungi sekolahalamindonesia.org untuk mendapat informasi resmi mengenai SAI.

kanal

agenda

April 2014
S S R K J S M
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya.

Statistik

  • 27,905 hits
free counters
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.